Yuk Nostalgia! Nongkrong dari Era ke Era, Korek Api Selalu Nemenin.

Pernah kepikiran nggak, kenapa nongkrong atau hangout bareng temen gak pernah bisa sebentar? Dulu kita kumpul di pos ronda, sekarang di coffee shop estetik. Menunya beda, obrolannya beda, tapi ada satu benda kecil yang hampir selalu nangkring di meja: korek api.

Yuk, kita telusuri bagaimana gaya nongkrong anak muda berubah dari masa ke masa, lengkap dengan temuan penelitiannya.

Nongkrong Itu Kebutuhan, Bukan Sekadar Tren.

Sosiolog Ray Oldenburg (1989) punya konsep yang disebut third place: tempat ketiga di luar rumah dan kantor atau kampus, tempat orang kumpul santai dan sukarela. Warung kopi, kafe, sampai pelataran minimarket masuk kategori ini. Jadi nongkrong itu kebutuhan sosial lama, yang cuma ganti "panggung" dari zaman ke zaman.

Perjalanan Nongkrong dari Era ke Era

Sebelum 1980-an: beranda dan balai desa. Kumpul di beranda, balai desa, atau berugak sambil ngopi tubruk, makan pisang goreng, dan gitaran. Fungsinya masih seputar tukar kabar dan jaga lingkungan.

1970 sampai 1990-an: warung kopi dan pos ronda jadi tempat favorit. Nongkrong jadi simbol kebebasan anak muda. Punya "markas" sendiri, jauh dari orang tua, dan dari sinilah lahir band sampai komunitas. Di Jakarta, ada Kafe Tenda Semanggi dan food court PIM 1 yang jadi tempat anak gaul kumpul.

2000-an: mal, warnet, dan kafe. Kafe modern mulai masuk, terutama setelah jaringan global seperti Starbucks hadir. Awalnya masih eksklusif buat kelas menengah ke atas, lalu pelan-pelan jadi gaya hidup anak muda.

2010-an: coffee shop kekinian. Penelitian Fauzi dkk. (2017) di Denpasar menemukan kafe bergeser dari "nilai guna" ke "nilai tanda". Artinya, orang ke kafe bukan cuma buat minum kopi, tapi buat menunjukkan citra diri dan gaya hidup, terutama lewat media sosial.

2020-an: nongkrong yang lebih bermakna. Studi di Kendari menemukan nongkrong Gen Z bergeser dari sekadar isi waktu luang jadi aktivitas sosial dan produktif, misalnya rapat organisasi dan kerja kelompok. Penelitian Marbawani dan Hendrastomo (2021) di Yogyakarta juga mencatat mahasiswa memaknai nongkrong sebagai self-healing dan ruang belajar alternatif. Tren terbarunya? Ada soft socializing ala board game dan puzzle, sampai padel yang ikut menggeser definisi tempat nongkrong.

Dan Korek Api? Selalu Ada di Meja

Mungkin karena api memang identik dengan kehangatan dan kebersamaan, dari api unggun sampai lilin di tengah meja. Korek api cuma versi paling kecil dan praktisnya: sekali pantik, suasana langsung berubah.

Share This Article

Facebook
X
WhatsApp
Copy link

Suggested for you.